
Pada tahun lima puluhan, satu satunya cara kelurga Berencana Alamia adalah metode kalender. Metode Kalender berdasarkan kenyataan bahwa ovulasi terjadi hanya pada satu hari dalam satu bulan, antara 10 sampai 16 hari sebelum haid mulai keluar. Atas dasar pengetahuan ini wanita yang siklusnya cukup teratur dapat menentukan hari hari dimana dia subur. Dia menghitung panjangnya siklus selama 1 tahun, kemudian menentukan masa mungkin subur dari hari keberapa sampai keberapa melalui suatu perhitungan dari siklus yang paling panjang dan yang paling pendek.
Metode Kalender dapat dipakai dengan sukses selama panjangnya siklus wanita tidak berubah. Tetapi ada kekurangannya. Tidak ada wanita yang siklusnya selalu teratur. Kadang kadang karena sesuatu hal – entah stress psikis atau fisik, entah selama menyusui atau waktu sedang menjelang menopause – panjangnya siklus mengalami perubahan yang cukup besar.
Dalam keadaan dimana siklus menjadi panjang atau tidak teratur, kebebasan pasangan terlalu dibatasi oleh Metode Kalenderdan kurang dapat diandalakan. Ada wanita yang siklusnya hampir selalu tak teratur, tanpa adanya kelainan. Tetapi agar dapat mengendalikan kesuburannya, mereka harus dapat menafsirkan siklus mereka itu. Yang dicari adalah suatu tanda kesuburan yang dapat diketahui oleh wanita itu sendiri.
Pada tahun 1953, Dr. John Billings mulai belajar buku buku dan majalah majalah kedokteran dengan tujuan mencari tanda tanda kesuburan itu. Dia heran mebaca sebuah buku yang menjelaskan tentang pengeluaran lendir yang terjadi sekitar saat ovulasi oleh sel sel didalam leher rahim.
Maklumlah dia bukan Dokter Ginekolog. Dari pelajaran pelajaran yang diterimanya Dr. Billings mengambil kesimpulan bahwa mskipun adanya lendir itu sudah diketahui oleh para dokter, tidak pernah ada yang menanyakan kepada wanita apakah dia menyadari hal itu.
Sebetulnya sudah pada tahun 1855, Dr. Smith setelah mengatkan bahwa kemungkinan mencapai kehamilan paling tinggi pada waktu lendir “didalam keaadaan paling encer / cair”. Juga Dr. Sims, pada tahun 1868 menekankan pentingnya lendir bila mau diperiksa kesehatan sperma. Ia mengatakan bahwa “test kesehatan sperma itu sebaiknya dilaksanakan pada waktu lendir menjadi bening dan bersifat seperti putih telur mentah”. Pada Tahun 1913, Dr. Hurner mengembangkan penelitian Der. Sims. Dia juga menekankan bahwa sebaiknya test Huhner itu dilaksanakan selama ada lendir yang khas. Pada tahun 1933 di perancis, Dr. Seguy dan Dr. Simmonet mengadakan penelitian dengan mengunakan laboratomy, dimana indung indung telur diliat langsung. Mereka menguatkan kesimpulan bahwa ada hubungan erat antara ovulasi dan lendir subur serta puncak estrogen.
Pada waktu mempelajari semua ini, Dr Billings bertanya-tanya mungkinkah lendir-lendir itu dapat dipakai sebagai tanda ovulasi? Mungkihkah lendir yang subur dapat dipakai sebagai tanda kesuburan?
Ia mulai menanyakan kepada beberapa wanita tentang lendir lendir itu. Menjadi jelas bahwa bagi ibu ibu lendir itu sesuatu yang biasa, dan mereka sadar akan variasi-variasi dalam sifatnya. Setelah itu perlu meneliti apakah pola perkembangan lendir selama siklus, dan apakah kaum wanita dapat menentukan masa subur meraka.
Dengan bantuan beberapa ratus wanita, ditemukan suatu polalendir yang standart. Menjadi jelas bahwa selain sifatnya, perasaan lendir penting untuk menunjukan permulaan masa subur. Wanita butapun dapat membedakan perasaan lendir dan menentukan bahwa pola lendir itu tidak begitu berbeda dari satu suku dengan suku yang lain.
Pada tahun 1966, Dr Evelyn Billings, Istri Dr John Billings mulai membantu suaminya dalam riset dan mengajar metode.
Langsung menjadi jelas bahwa lebih berhasil bila metode ini diajarkan oelh wnita. Bagi kaum Adam sulit membanyangkan wujud dan perasaan lendir yang merupakan hal pokok dalam menjalankan metode dengan baik. Selain itu sulit bagi wanita tertentu berbicara dengan pembina laki laki mengenai soal lendir.
Pada pertengahan tahun empat puluhan telah selesai suatau studi klinis yang panjang. Dari penelitian – penelitian itu dirumuskan peraturan – peratutan untuk mengendalikan kesuburan.
Sampai saat itu baru ditentukan pola lendir yang mempunyai hubungan dengan ovulasi, serta masa tidak subur sesudahnya. Untuk bagian pertam siklus, masih dipakai perhitungan metode kalender. Ini masih kurang memadai bagi mereka yang siklusnya tak teratur, pada wktu ovulasi tertunda, seperti misalnya pada wanita yang menyusui anak atau yang menjelang menopause.
Banyak wanita setelah mengerti metode dengan baik, merasa tidak perlu memakai termometer lagi. Mereka merasa bahwa perubahan perubahan lendir sudah cukup untuk menentukan masasubur. Suatu kelompok menemukan bahwa kesuburan mulai pada saat pola lendir yang sifatnya terus menerus sama berubah menjadi lendir yang berbeda.
Penemuan tersebut itu – bahwa ada pola ketidaksuburan selama ovulasi ( entah pola kering, entah ola lendir ) diteriam oelh semua pihak dengan lega, karena tidak perlu lagi mengadakan pantang yang cukup lama pada waktu itu seperti halnya dengan memakai perhitungan kalender. Asal rasa kering atau lendir itu tidak berubah sifatnya, tidak akan terjadi kehamilan. Setiap penemuan baru diteliti dengan seksama dan dihubungkan dengan keadaan hormona agar dapat dirumuskan pedoman pedoman yang dapat diandalkan dan berlaku umum.
Sejak tahun 1971 perhitungan sistem kalender, dan pengukuran suhu basal tidak dipakai lagi. Metode Ovulasi Billings yang sekarang sudah disempurnakan dan diteliti melalui bermacam macam penelitian, dapat berdiri sendiri, dan berlaku untuk semua keadaan hidup pembiakan.
Ibu – ibu dapat meneruskan penyusuan bayi dengan tenang, karena tahu apakah mereka subur atau tidak subur. Tidak perlu lagi menyapih banyinya agar supaya mulai berovulasi lagi. Karena sekarang dapat diketahui dengan tepat fase fase ketidak suburannya yang lama, wanita pra-menopause sekarang dibebaskan dari kecemasan, dan dari menunggu kenaikan suhu badan yang mungkin tidak akan terjadi lagi.
Metode evolusi ditentang terutama oleh meraka yang kurang memiliki pengetahuan dan kepandaian yang mengajarkannya dengan sukses, atau oelh mereka yang mengira bahwa metode ovulasi sama dengan sitem kalender. Terdorong oleh tentangan – tentangan ini penelitian-penelitian ilmiah dilanjutkan bersama dengan percobaan percobaan lapangan. Akibatnya keefektifan metode tidak diragukan lagi.
Penelitian-penelitian metode pertama tama dilakukan dengan cara menyelidiki hormon hormon kesuburan. Penelitian hormon itu dilakukan atas wanita dengan siklus normal, yang menyusui, menjelang menopause, yang mengalami kelainan siklus seperti misalnya wanita tidak berovulasi, yang pola lendirnya lain, dan mereka yang mengalami kesulitan untuk mengandung.
Kemudian metode diselidiki melalui penelitian lendir sendiri untuk membedakan ciri ciri khas lendir subur dan lendir yang keluar pada waktu tidak subur. Akibat riset ini banyak pasangan yang dianggap mandul, dapat mencapai kehamilan. Akhir akhir ini penelitian dilakukan dengan menggunkan teknik teknik ultrasound dan laparoscopi, dimana perubahan perubahan pada permukaan indung telur dapat diselidiki secar visual.
Sekarang Metode Ovulasi berkembang dimana mana dalam lebih dari 100 negara, dan makin diterima oelh masyarakat luas. Penelitian lendir dari laboratorium, data laparoscop, pengukuran kadar hormon – hormon serta penelitian tentang masalah ketidak suburan, semua menunjukkan bahwa wanita akan lendirnya merupakan pedoman kesuburan yang amat tepat.
Terjemahan dari “ The Billings Method” Dr. Evelyn Billings dan Ann Westmore, Melbourne 1980.